English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Dariyanto, S.Kom. Anggota DPRD Kota Bekasi 2014-2019

Informasi tentang kandidat caleg, pemilukada & pilpres Indonesia

Kamis, 05 Agustus 2010

Rekontruksi Suap Pejabat di Pemkot Bekasi

54 Reka Adegan Suap

PERAN PENGGANTI: Sekda Tjandra Utama (dua dari kanan berdiri) menyaksikan reka ulang suap pejabat Pemkot Bekasi ke BPK yang diperankan pegawai KPK menggantikan dirinya di halaman Balaikota kemarin. FIRMANTO/RADAR BEKASI
JAKARTA SELATAN - Upaya Wali Kota Mochtar Mohammad mengajukan pengunduran jadwal rekonstruksi kasus suap pejabat Pemkot Bekasi ke BPK Jawa Barat, karena bentrok dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), ternyata tak digubris Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Nyatanya, komisi antikorupsi tetap menggelar reka ulang rencana penyuapan ke BPK Jawa Barat di Pemkot Bekasi, kemarin.

Dua dari tiga tersangka pejabat Pemkot, Sekretaris Daerah (Sekda) Tjandra Utama Effendi dan Kepala Inspektorat Herry Lukmantohari, terlihat hadir dalam sejumlah adegan reka ulang di pelataran pemkot.

Herry memerankan dirinya sendiri dalam beberapa adegan sambil memegang kertas bertuliskan tersangka 2. Sementara Tjandra Utama sebagai tersangka 1 diperankan salah satu pegawai KPK.

Tersangka suap lainnya, Kabid Aset dan Akuntansi Herry Supardjan tidak ikut serta dalam rekonstruksi yang digelar sejak pukul 14.00 itu. Herry bakal ditampilkan dalam reka ulang di Bandung, Jawa Barat, hari ini.

Dalam rekonstruksi yang berlangsung selama empat jam dengan 54 adegan itu, KPK juga menghadirkan salah satu Ketua KONI Kota Bekasi Eddie Prihadie, asisten pelatih Persipasi Muhammad AR, dan pengurus Persipasi Jeffry Rahman. Ketiganya berperan sebagai saksi pencairan dana KONI sebesar Rp 1 miliar untuk kepentingan klub Persipasi.

Mobil rombongan anggota KPK tiba di pelataran Pemkot Bekasi bersama tersangka Tjandra Utama dan tersangka Herry Lukmantohari. Tjandra menumpang Kijang Super silver bernopol B 3027 HQ.

Disusul dua mobil Toyota Avanza hitam B1904 UFR dan B1743WFE serta 1 Inova hitam B1532 YQ. Satu diantara tiga mobil itu ditumpangi Kepala Inspektorat Kota Bekasi Hery Lukmantohari. Kedua tersangka dikawal 10 anggota KPK.

Tjandra turun dari mobil menggunakan jas abu-abu berkemeja putih dengan celana hitam. Tak lama kemudian disusul Hery Lukmantohari yang mengenakan baju ungu bermotif batik dengan bawahan coklat.

Keduanya terlihat tersenyum saat wartawan dan sejumlah pegawai pemkot menyapa. Rekonstruksi dimulai dari ruang kerja Sekda Tjandra. Lokasinya, tepatnya di sebelah kiri ruang lobi kantor wali kota.

Puluhan petugas Satpol PP dan polisi Samapta langsung berjaga-jaga. Sempat terjadi dorong-mendorong dengan petugas saat para wartawan mencoba masuk ke dalam ruangan Pemkot untuk melihat rekonstruksi secara jelas. “Coba jangan masuk ke dalam di luar saja mengambil gambarnya,” ungkap salah satu petugas.

Dalam ruang sekda itu, reka ulang berlangsung 30 menit. Diduga di ruangan itulah rencana penyuapan untuk membeli penilaian BPK Jawa Barat diatur. Hadir dalam rekonstruksi itu Sekda Tjandra Utama, Kepala Inspektorat Herry Lukmantohari, dan Kepala DPPKAD Najiri.

Dalam rekonstruksi itu Tjandra memerintahkan salah satu stafnya bernama Isnaeni mengambil duit Rp195 juta di bagian umum.

Lalu, Isnaneni pun digiring pegawai KPK ke ruang bagian umum menunjukkan tempat penyimpanan uang tersebut. Setelah itu uang diserahkan ke Tjandra dan dimasukkan ke dalam mobil. Dalam reka ulang itu, penyerahan uang disaksikan oleh Kepala DPPKAD H Najiri dan Kepala Inspektorat Herry Lukmantohari.

Usai memasukkan uang dalam mobil, ketiganya, Tjandra, Najiri, dan Herry Lukman, menuju rumah dinas Wali Kota Mochtar Mohammad.

“Dalam adegan di rumah wali kota, sekda dan Herry bersama saksi Najiri ingin bertemu menghadap wali kota, namun beliau sedang tidur dan tidak bisa ditemui,” ungkap, pengacara Herry Lukmantohari, Priagus Widodo yang turut menyaksikan rekontruksi mengikuti sampai ke rumah dinas wali kota sekitar pukul 16.20.

Sementara itu, rekonstruksi di kantor KONI dimulai 10 menit berikutnya dan berlangsung hingga pukul 17.05. Setidaknya ada tiga orang memerankan 10 adegan reka ulang.

Tiga orang itu adalah ketua KONI Edi Prihadi, asisten pelatih Persipasi Muhammad AR dan sekretaris tim Persipasi Jefri. Selain saksi, dua tersangka Heri Lukman dan Tjandra Utama Effedi juga didatangkan. Seperti di Pemkot, reka ulang di Koni juga berlangsung ketat.

Dalam reka ulang yang berlangsung tertutup memperagakan saat pada Senin (17/6), Jeffry datang ke kantor KONI atas perintah manager Persipasi Tjandra Utama untuk mengambil uang bantuan bagi Persipasi sebesar Rp1 miliar.

Jefri setidaknya datang ke sana sebanyak tiga kali dalam hari yang sama. Sekitar pukul 10.00 Jeffry menfemui Eddie untuk menyampaikan pesan Tjandra tentang pencairan duit Rp1 miliar. Selanjutnya KONI mencairkan uang itu di Bank Jabar.

Pukul 15.00 saat itu, Jeffry datang ditemani Muhammad AR untuk mengambil duit tersebut. Mereka datang menggunakan dua mobil jenis Timor warna hijau. Menurut AR, dirinya hanya berperan menemani Jeffry mengambil uang di KONI saat itu.

“Karena uang yang diambil banyak maka saya temani. Selain itu, uang itu kan untuk kepentingan Persipasi juga,” beber AR.

Dari 38 hingga 47 adegan berlangsung di dalam dan di luar gedung. Di dalam gedung antara lain berlangsung di ruang tamu dan ruang kerja Eddie yang berada di lantai satu. Adegan 47 yang berlangsung di halaman parkir menggambarkan, saat Jefri dan AR keluar kantor dengan membawa uang Rp1 miliar yang dibungkus kantong plastik warna hitam. Uang tersebut kemudian dimasukkan dalam bagasi belakang mobil Jeffry.

Ditemui usai melakukan rekonstruksi, Eddie mengaku antara lain melakukan reka ulang saat dirinya menerima telepon dari Tjandra yang saat itu berada di Makkah. Saat itu Sekda meminta kepada Eddie untuk mencairkan uang Rp1 miliar yang akan digunakan untuk kepentingan Persipasi.

“Ada beberapa adegan yang tadi saya perankan. Antara lain saat menerima telpon dari Sekda,” bebernya.

Usai memerankan adegan ke 47, petugas KPK , saksi dan para tersangka masuk mobil menuju kantor Inspektorat yang berada di Jalan Juanda, Bekasi Timur. Tjandra yang mengenakan setelan jas warna abu-abu tampak masih mengumbar senyum sebelum meninggalkan gedung KONI.

Dengan menggunakan delapan mobil, petugas KPK sampai di kantor Inspektorat sekitar pukul 17.15. Di kantor Herry, berlangsung adegan 48 hingga 44 dan berjalan sekitar 30 menit. Adegan 48 menunjukkan Jefri ditemani AR keluar dari mobilnya dan mengambil uang Rp200 juta yang dimasukkan dalam tas warna merah. Selanjutnya mereka masuk ke ruang kerja Heri dilantai dua.

Di sana diserahkan duit tersebut pada tersangka. Reka ulang berakhir pada adegan ke 54 saat Herry ditemani sopir menggunakan mobil menuju Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itu uang tersebut diserahkan kepada Herry Supardjan untuk diberikan kepada Kepala Sub Auditoriat BPK Jawa Barat Wilayah III Suharto.

Sekitar pukul 17.55 seluruh adegan berakhir. Tjandra dan Herry kembali dibawa KPK menuju Jakarta. Reka ulang akan dilanjutkan di Bandung hari ini.

Pegawai KPK yang ikut dalam rekontruksi, Gunawan, sempat melontarkan rekonstruksi dilakukan di empat tempat terpisah yang berhubungan dengan aliran uang kasus penyuapan. “Mulai dari ruang Sekda, kemudian ruang bagian umum, rumah dinas wali kota dan kantor Koni,” pungkasnya.

Terpisah, Jubir KPK Johan Budi SP mengungkapkan reka ulang ini guna memperdalam penyidikan KPK dalam kasus penyuapan yang kini sedang berjalan. Bahkan, kata Johan, rekonstruksi ini dilakukan guna membuat perkara kasus suap menjadi terang benderang.

“Untuk membuat terang kasus dugaan suap kepada auditor BPK Jabar oleh pejabat Pemkot Bekasi dan mencari bukti–bukti baru,” katanya.

Ditanya terkait diadakanya rekontruksi ini bakal menutup kasus suap ini sehingga tidak ada tersangka lagi dan dilimpahkan kepada penuntutan, Johan membantah keras.

Menurutnya, rekontruksi yang dilakukan penyidik KPK untuk mencari tahu dan mendalami kasus suap ini. “Kita masih mendalami dan mengembangkan terus kasus ini, kemungkinan tersangka baru pasti ada dalam kasus suap ini,” tegasnya.

Di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, sebanyak tujuh PNS dan pensiunan PNS Pemkot Bekasi turut diperiksa sebagai saksi bagi para tersangka. “Saya lupa nama- namanya, tapi ada sekitar tujuh PNS dan pensiunan Pemkot diperiksa sebagai saksi,” aku Johan.

Sebelumnya, KPK intensif memeriksa sembilan orang pegawai Pemkot Bekasi. Kesembilan pegawai Pemkot Bekasi itu adalah, Edy Rosyadi, Aidil Fitri, Hamida, Yanka Perkasa, Nur Syamsuddin, Dadang Ginanjar, Muhamad AR, Jefi Rachman, dan Yanti B diperiksa sebagai saksi perkara pemberian gratifikasi suap kepada BPK Jabar III.

Sekedar diketahui, KPK telah menetapkan Sekretaris Daerah Kota Bekasi Tjandra Utama Effendi sebagai tersangka. Setelah sebelumnya, Kabid Aset dan Akuntansi Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kota Bekasi Herry Supardjan (HS), Inspektur Wilayah Kota Bekasi Herry Lukman Tohari (HL), Kepala Sub auditoriat BPK Jabar Wilayah III Suharto (SA), dan auditor BPK Jabar Wilayah III Enang Hermawan (EH) menjadi tersangka dalam perkara ini. (rif/haj/dul)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

GlestRadio-Bekasi

Iklan Display Bekasi

Google+ Followers

Iklan Baris Global

Distributor Madu & Propolis Murni