English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Dariyanto, S.Kom. Anggota DPRD Kota Bekasi 2014-2019

Informasi tentang kandidat caleg, pemilukada & pilpres Indonesia

Jumat, 26 Agustus 2011

Fenomena Spanduk Media Kampanye Paling Diminati

Bukan Cuma Curi Start Kampanye Tapi Uji Air Opini Publik


Balon Walikota 2008 berdampingan sambut puasa
Bekasi - webrizal.com
Melihat begitu maraknya reklame bertebaran dalam bentuk yang paling murah seperti spanduk di sepanjang jalan raya baik itu jalur utama kelas I (jalan provinsi) maupun jalan kecil setingkat kecamatan atau jalan kelas IV, seperti melihat pelangi spanduk yang indah tapi terkadang juga bisa menyebalkan karena terlalu lebay (over communicated).

Namun banyak dari mereka yang memasang spanduk berdalih bahwa itulah cara paling murah dan efektif mengingatkan target audiens mereka sehingga keberadaan mereka tetap diketahui dan seolah mereka bisa berkomunikasi secara sepihak, bahwa mereka masih peduli kepada sang pembacanya.


Sudah pasti spanduk baik yang bersifa komersil atau sosialisasi biasa maupun iklan politik terselubung memang memberikan dampak langsung bagi sang pemasang sebagai pengingat kepada target audiens nya bahwa mereka masih eksis dan perlu untuk diingat.

Perang komunikasi media luar ruang ini memang termasuk yang paling murah setelah promo iklan di media cetak seperti koran dan majalah serta televisi dan radio. Namun selama satu dekade terakhir ini, media luar ruang sepertinya tak akan tergantikan sekalipun media baru berupa publikasi dalam bentuk online seperti internet kini mulai merambah di tengah masyarakat perkotaan.

Sebagai contoh langsung dari para politisi yang berkepentingan berkomunikasi satu arah kepada para konstituennya, bahwa mereka masih ada dan peduli kepada mereka dengan memberikan salam dan pesan singkat yang berkaitan dengan momentum waktu. Saat menjelang masuk bulan puasa, dan berakhirnya bulan Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk berkomunikasi melalui spanduk dan baliho bahkan kalau perlu billboard.

Tokoh politik bahkan yang masih punya masalah dengan status hukumpun masih bisa menggunakan media sapnduk sebagai cara paling cepat dan mudah memberikan kesan positif kepada para pendukung dan konstituennya. Meski kita sadar betul tidak semuanya mampu memberikan dampak positif, karena bisa saja malah memberikan komentar nada miring yang tidak efektif sama sekali bagi pencitraan mereka di tengah masyarakat.

Seperti tokoh walikota Bekasi yang sedang menjalani proses pengadilan karena kasus yang diungkap KPK, yakni Mochtar Mohamad. Tokoh penting di PDI Perjuangan Kota Bekasi ini masih saja intens menggelar spanduk dengan dominansi warna merahnya, seolah ingin mengatakan bahwa keadaanya biasa-biasa saja tak ada masalah dengan dirinya. Boleh diacungkan jempol bagi para pendukungnya yang tetap ngotot dan bersemangat membangun citra positif dari sang walikota tersebut.

Sementara itu balon walikota tahun 2008, H. Awing Asmawi yang akhirnya bergandengan bersama Ustadz H. Ahmad Syaikhu dalam spanduk mereka sepertinya memberikan pesan singkat, bahwa mereka akan siap kembali bertarung memeprebutkan kursi walikota Bekasi di tahun 2013 mendatang. Kalau tak mau dibilang begitu, setidaknya setelah sang walikota pemenang pada pilkada tahun 2008 lalu, Mochtar Mohamad sedang mengalami masalah dengan hukum karena KPK, peluang mereka menjadi walikota Bekasi seolah terbuka kembali dan secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan kepada warga masyarakat Bekasi, "Tuh kan... Gue bilang juga ape....!" Meskipun mungkin bukan itu yang hendak mereka katakan dalam setiap spanduk mereka.


Apapun pesan mereka dalam spanduk yang kian bertebaran di sepanjang jalur ramai Kota Bekasi (bukan hanya di kota Bekasi saja tentunya, termasuk di tempat-tempat lain), bahwa efektifitas komunikasi media luar ruang masih merupakan senjata ampuh membetot perhatian publik dengan caranya sendiri.

Nah tinggal apakah cara ini sesuai dengan etika dan kesantunan komunikasi yang itu semua terpulang dari oknum atau figur yang mencoba menggunakan media komunikasinya ini. Perlu juga diingat tidak semua spanduk dan baliho yang terpasang adalah didukung dan dibiayai oleh sang pemilik pesan, terkadang malah justru buatan dari para pendukungnya tanpa bantuan dana langsung dari yang bersangkutan. Nah mungkin inilah yang terkadang sulit dibedakan dengan yang narsis atau yang bukan (narsis=spanduk buatan sendiri dan biaya sendiri, berbeda dengan yang buatan para pendukungnya).

Sekarang bagaimana dengan Anda saat membaca pesan mereka, seperti Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin, Minal Aidin wal Faidzin... Apakah Anda seolah bertemu mereka dan saling bersalaman serta bermaafan dengan mereka secara langsung? Saya ya... karena mempunyai nomor telepon mereka langsung kok... hmmmm



Sidik Rizal - profiltokohkita.com



Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

GlestRadio-Bekasi

Iklan Display Bekasi

Google+ Followers

Iklan Baris Global

Distributor Madu & Propolis Murni