English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Dariyanto, S.Kom. Anggota DPRD Kota Bekasi 2014-2019

Informasi tentang kandidat caleg, pemilukada & pilpres Indonesia

Jumat, 21 Oktober 2011

Perang Citra Pilkada

Bekasi - Menjelang pelaksanaan Pilkada Kabupaten Bekasi, hampir di setiap sudut kota dapat dengan mudah dijumpai aneka spanduk dan baliho yang membuat gambar calon kandidat Bupati atau wakil Bupati. Tujuannya sama, yaitu memperkenalkan diri, merebut simpati dan meraih dukungan suara.

Para kandidat sepertinya sudah paham betul, bahwa popularitas menjadi modal awal yang harus dimiliki. Maka jauh sebelum ditetapkan sebagai pasangan calon, para kandidat sudah getol mengkampanyekan dirinya kepada publik, seperti layaknya menawarkan sebuah produk barang kepada konsumen secara terus menerus. Baik melalui media luar ruang (baliho, spanduk, stiker, pamflet) media massa (koran, bulletin, majalah dan radio) maupun dalam beragam kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan.


Secara umum, segmentasi pemilih di Kabupaten Bekasi terdiri dari dua tipologi, yaitu masyarakat tradisional dan perkotaan (modern) yang akan membedakan pola mobilisasi pilihan pemilih. Dalam kasus masyarakat tradisional maka jargon, visi misi dan platform kandidat hanya bersandar pada sesuatu yang usang dan menjadi pemakna kosong yang mengantung di langit. Masyarakat tradisional tidak terlampau peduli dengan konsep atau platform. Rasionalisasi visi misi untuk menjadi suatu hal yang realistis, dapat dicapai, dan tingkat keberhasilannya tidak menjadi ukuran. Pemilih tradisional lebih peka terhadap ikatan primordial, komunalitas, moralitas, dan citra diri yang ditampilkan oleh kandidat sebagai figur yang jujur, amanah dan aspiratif terhadap semua golongan.

Biasanya kandidat bermain pada penguatan ranah pencitraan. Citra telah mendahului kenyataan sampai pada titik dimana ia membalikkan tata sebab akibat dan logika dari kenyataan dan reproduksinya atau dalam bahasa Jean Baudrillard disebut Simulacra. Pemilih disodorkan pada pilihan yang sudah dimanipulasi dengan kemasan yang sedemikian rupa. Sedangkan dalam kultur perkotaan yang terjadi adalah sebaliknya. Hanya saja kultur masyarakat Kabupaten Bekasi lebih dominan terdiri dari masyarakat tradisional.

Media kampanye (apapun jenisnya), mencoba menghadirkan gambaran realitas sang kandidat yang diolah sedemikian rupa, biasaya dilengkapi dengan foto termanis dan disertai kata-kata yang memikat. Perang citralah yang saat ini sedang terjadi dalam lanskap politik Kabupaten Bekasi. Sehingga wajar, jika baliho, spanduk, stiker dan berbagai media kampanye, memenuhi setiap sudut kota. Alih-alih bukan mengajak masyarakat untuk berpolitik cerdas, malah memperburuk wajah kota. Kota menjadi terlihat kumuh dan kotor.

Penguatan partisipasi masyarakat pada pemahaman politik utuh perlu terus diupayakan guna menciptakan masyarakat pemilih yang kritis dan rasional sehingga tidak mudah terkecoh dengan citra dan simbol yang dimanipulasi kandidat dan elite politik.. Dari sudut inilah Pilkada dapat dimaknai sebagai pengembalian politik ke tangan rakyat. Dan turut mengelola ranah politik di atas landasan demokrasi secara bertanggung jawab pasca Pilkada.
Sumber : (brat - bekasiterkini)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

GlestRadio-Bekasi

Iklan Display Bekasi

Google+ Followers

Iklan Baris Global

Distributor Madu & Propolis Murni